Sore itu aku harus menapaki sebuah jejak awal dari perjalanan baru nan amat sukar. Aku melangkah tanpa peduli siapa yang mengikuti arus itu, menaiki sebuah kapal menuju tanjung harapan. Sebatang rokok kunyalakan saat berada di dek.
    Hingga, aku merasa bahwa aku tidak sendirian. Kulihat sekitar, dan seorang wanita muda dengan kulit kuning langsat, mata yang tipis, bibir tipis, dan tubuh yang elok duduk di sampingku. Aku kira asap rokokku akan menganggu waktu senja indahnya. Maka aku menanyakan suatu hal padanya ‘’ apakah diriku menganggumu?,’’ dia menjawab ‘’tidak.’’ Aku penasaran, karena ia tampak baru di mataku, maka aku menanyakan namanya, ia menjawab ‘’Ivonni.” 
     Seperti dugaanku, dia benar nyata adanya. ‘’hendak kemanakah dirimu?,” “aku akan pulang ke rumah,’’ ‘’apa kau sendiri?,’’ ‘’ya, karena ini hal lumrah, pulang ke rumah.’’ Sebuah percakapan ringan ini menghantarkan ku untuk mengenalnya. Ivonni lebih banyak berbicara, walau kami baru saja bertemu. Dia sosok yang kuat dan ingin didengar, seperti ku. 
     Bibir kapal menyentuh tanah impian. Aku tak ingin Ivonni melupakan kesenangan kecil ini, aku menanyakan rumahnya, dan dia memberiku secarik kertas yang bertulis alamat lengkapnya. Ivonni bersau dengan kebisingan kapal, sepertinya aku sudah melupakannya lebih dulu. Seorang sahabatku mengatakan bahwa aku adalah kelas rendahan, menggoda wanita dan melupakan apa tujuan sebenarnya. Saat itu aku sadar, dan melanjutkan perjalanan itu.
       Suatu hari aku terbangun dengan luka sayatan di tubuh. Aku mengingat kembali kejadian sebelumnya, aku disakiti, lagi. Sayatan itu ada setiap kali aku berpikir wanita-wanitaku, mereka bukanlah yang dihendaki tuhan. Aku merasa mereka bukanlah bagian dari perjuanganku, mereka seperti kumpulan orang yang melacurkan diri demi mendapat eksistensi ku. Terbesit Ivonni di pikiranku. Dia terlihat hidup dalam memori ini. Aku teringat sikap kami yang hampir sama, aneh dan ingin banyak bicara. Banyak orang mencela diriku yang dianggap ‘aneh’. Namun aku seperti tidak sendirian, Ivonni juga mengalami hal yang sama. Beberapa kali kami mengirim surat, dan mendapat hal-hal menarik di dalamnya.
     Mungkinkah Ivonni adalah milikku yang dikirim tuhan?, berkali-kali aku meremehkan dan berkata ‘’tidak, bukan dia.’’ Namun, semakin aku menolak, perasaan ini menghantuiku. Ivonni tidak seperti yang lain, dia tidak menjatuhkan darahku dengan sengaja. Aku berpikir kembali, ya sepertinya kau adalah ‘dia’.
    Tetapi aku tak bisa membawamu pulang ke taman impian ini, karena aku masih berusaha membuat atap di tengahnya. Aku yakin dia akan menungguku dengan senyum dan kegembiraan yang tertahan di kelopaknya. ‘’tenanglah sayang, kau tidak akan berjalan sendirian kembali, bercurah air mata di sudut itu. Suatu saat kau akan dapat berteduh dan mempunyai teman-teman kecil kita, membeli beberapa bintang dan menjadikannya lentera di taman kecil ini. Aku harap kita adalah takdir, merubah kerikil di kaki kita menjadi permata, dan berjalan di tengah samudra dengan mengenakannya.’’



Untuk Ivonni : 

Tunggu disini
Aku akan pulang pagi ini
Aku tahu aku bukanlah segalanya bagimu
Tapi kau sangat indah di mataku

Ketika aku datang
Aku mengatakan ‘’aku mencintaimu’’
Dan kau mencintaiku
Tapi dapatkah aku mendapat tali itu?
Tali itu untuk terakhir kalinya

Karena kita akan membeli beberapa bintang
Di saat jatuh dalam kedamaian
Lihatlah, tentu setiap dari mereka mempunyai alasan

 -Modcha  -

0 comments so far,add yours