Berulang-ulang kali kubertanya pada tuhanku "jikalau ia bukan milikku, lantas mengapa engkau tanamkan cinta yang begitu dalam?," tanyaku yang terdengar seperti rintihan Rahwana dalam bukunya Seno Gumira. Sudah setahun lamanya, aku mengembara di daratan Jawadwipa, hanya untuk mencari jawaban dari "kenapa ada manusia-manusia yang diberi ujian perihal kasih sayang namun sangat berat". Sesuatu, yang bagi sebagian lelaki akan menganggap hal itu tak perlu direnungi.

Namun, hal itu menjadi bahan ajarku, apa yang sedang gusti berikan kepada hambanya ini. Pertama aku menyakini bahwa 'perlakukanlah cinta kepada mereka yang mengasihi dan menjahatimu'. Sesuatu yang terdengar naif dan terlalu memalaikatkan diri. Toh, pada saat itu saya juga berpikir bahwa hidup di dunia ini tentang membantu orang lain.

Seiring berjalannya waktu, saya temui lagi anti tesis dari hal itu. Yakni, manusia yang masih berani menyebut dirinya 'manusia', tidak akan mungkin menebar benih kasih tanpa maksud tertentu, terlebih kepada seluruh ciptaan tuhan. Maka disini saya menyadari bahwa arti cinta adalah mereka yang tahu kapasitas dirinya dan orang lain. Tak mungkin seseorang memberikan cinta dengan porsi yang sama, semua orang mempunyai takarannya, begitupun harus mengasihi diri sendiri terlebih dahulu. 

Memahami diri sendiri, baru orang lain adalah sebuah pantangan saya seumur-umur hidup di dunia. Bagi saya sebelumnya, kehidupan pribadi tidak penting (dalam artian kasar : hancurkanlah dirimu) demi kemaslahatan bersama, namun hal itu terbantah juga. Pada akhirnya saya mampu berdamai dengan kalimat "love yourself" setelah sekian lama bersiteru dengan kawan-kawan yang menggaungkan pesan tersebut. Artian "love yourself" ini saya gubah sedikit dari apa yang bertebaran di internet, yakni 'mencintai diri sendiri demi keberlanjutan untuk mencintai orang lain'. Tak perlu melakukan Kamikaze (bunuh diri ala tentara jepang demi negaranya) lagi pada abad ke 21 ini, kadang manusia hanya perlu mundur dan 'percaya pada waktu' yang sudah ditentukan Gusti.

Denyut asmara semakin berdegup kencang di hati. "Jikalau seperti pembahasan di atas, berarti kita hanya perlu bersabar toh?", gelisah jiwaku dalam hati. Berminggu - minggu di tahun itu saya rela dicaci, dicap bajingan, disumpah serapahi, toh bagi saya manusia adalah ia yang bisa menahan angkara murka sepanjang harinya. Saya sabar, demi menunggu perubahan pada orang-orang yang saya cintai namun membenci saya. Tak perlu penjelasan kepada mereka, sebab "orang yang membencimu akan tetap membencimu, begitupun orang yang menyayangimu tak perlu penjelasanmu", kalimat tersebut sempat menyihir kawan saya selama berbulan-bulan. Entah kadang celetukan orang 'edan' macam saya mampu meluluh lantakkan idealis orang lain..hahaha.

Sempat tentrem sejenak dengan tesis terbaru tersebut, namun sebuah sabda tuhan menuntun jikalau perjalanan belum berakhir. "Maka tuhan mampu membolak-balikkan hati", sontak saya merasa hilang akal hingga berani untuk menganggurkan kuliah selama satu semester (maaf untuk bapak dan ibu terkasih). Dari hal tersebut, saya memahami bahwa selama ini yang saya lakukan tiada artinya, penuh dengan kejutan. Namun, beruntungnya saya diberi pencerahan lebih cepat agar tak menjadi orang yang dicap gila di luaran sana. 

Satu-persatu orang yang pernah mempunyai asmara kepada saya, datang kembali dan mengucapkan terima kasih, karena diri ini berani untuk mengenal mereka. Orang-orang tersebut yang dahulu membenci saya karena sikap saya yang terlalu berlebih kepada mereka, kini tanpa angin dan hujan mereka masih mengingat saya. Suatu hal, yang menjadi pemantik api semangat bahwa saya masih 'ada'. Kini mereka mempunyai pasangannya masing- masing, tentunya aku sudah ikhlas akan hal tersebut, bahkan bangga jika diri ini dilibatkan dalam proses kehidupan mereka.

Ikhlas, kata ini lah yang nangkring di algoritma media sosial saya di akhir tahun tersebut. Sengaja dilakukan agar mencadi makna dari kata tersebut. Singkatnya pada akhir tahun tersebut, saya menemui bahwa perempuan yang terakhir saya sukai ini sedang pergi untuk mengisi senggangnya waktu. Aneh sekali, tiba-tiba kegelisahan muncul, keinginan untuk menyusul, padahal ia sedang menikmati kebahagiaannya, namun kenapa saya tak bisa ikhlas, padahal telah melalui berbagai pengujian empiris terhadap rasa suka - tidak suka ini. 

Syukurnya saya mendapat dukungan dan terlahir di keluarga nekat, dengan modal 'niat ingsun' saya beranikan diri untuk menghalau ratusan kilometer jauhnya hanya untuk mengetahui jawaban terhadap kegelisahan hati. Sempat mampir di rumah dua guru saya dalam satu atap untuk menepi. Di sana saya utarakan maksud saya, dan jikalau mereka membaca tulisan ini, saya berterima kasih sekali telah diperkenankan untuk mengenal mereka.

Dua guru saya ini, sebut saja Mbah Nang dan Mbah Nung mempunyai nasihat berbeda, namun terasa satu di diri saya. Mbah Nang mengatakan "tidak ada yang salah, perasaan itu diberikan kepadamu tentu bukan sebuah kegabutan tuhan. Ambil setiap konsekuensi yang kamu pilih." Berbeda dengan Mbah Nung, "sebagai lelaki, jangan jatuhkan harga dirimu. Pilihlah seseorang yang mengertimu, yang memperlakukanmu selayaknya raja". Sontak untuk kedua kalinya saya kaget, dan menyadari jikalau "ujian setiap orang berbeda, namun semua orang juga punya ujian" untuk kesekian kalinya. 

Hingga di sini saya bersyukur, bisa lega akan tahun - tahun muram dan kegilaan di satu tahun tersebut. ya, akhirnya saya memahami bahwa perlu adanya berjuang, dan berserah diri atau ikhlas pada maha kuasa. Tidak ada Rezeki, Jodoh, maupun kematian yang tertukar, semua sudah diatur oleh gusti, ikhlaskan. 

Satu pertanyaan untuk satu perempuan yang mampu hingga menggonjang-ganjingkan keimanan saya selama setahun penuh itu tanpa berkomitmen maupun komunikasi, "kamu itu siapa?, kuat sekali doamu."

Haha..pada akhirnya saya mengerti esensi dari sebuah cerita yang menyebutkan tentang mahar nikah seberat 3 kali bacaan surat Al Ikhlas. (Ahr/Ponorogo/2022)





0 comments so far,add yours