Hujan telah sedikit reda. Kulangkahkan kaki
menjauh dari persinggahan, memercikkan genangan air. Rokok kretek menempel
dibibirku sedari tadi. Api tak ingin menyambarnya, karena angin segar masih
berhembus, jaket tebalku pun tak mampu menahannya.
Aku duduk sejenak di sebuah bangku
untuk menyalakan rokok, namun aku tak sendirian. Perempuan mungil, berkulit
kuning langsat yang sedang memperhatikan Hpnya terus menerus tepat di
sampingku. Dia bernama Anna. Aku mengenalnya sejak 6 bulan yang lalu, saat
pesta di sudut kota.
“Hey Anna,” sapaku. “Ah hai juga,
bagaimana kabarmu,” “Aku seperti yang kau lihat, semua berjalan datar. Apa yang
sedang kau lakukan disini?, tidak dinginkah?,” namun dia berhenti melihatku dan
berpaling ke arah lain, dengan senyum yang ditahan. Tidak lama, sebuah suara
isakan terdengar jelas. Aku yakin jelas itu dari Anna. Aku mencoba pergi
sejenak, karena mungkin aku telah mengganggunya.
Saat kakiku bergeser beberapa inci,
tiba-tiba dia memelukku, aku bisa merasakan kelopak matanya basah menembus
jaketku. Dia berteriak “JANGAN PERGI!!...Kau tak mengerti segala tentangku, kau
hanya lari dariku...”. Aku tahu kata itu bukan untuk diriku, namun untuk
pacarnya. Sepertinya mereka telah tidak bersama.
Setelah mengetahui itu, aku juga ikut
mendekapnya, dia terkaget, dan aku mengatakan “Dunia kejam itu nyata, dan air
mata abadi di dalamnya,” Tangisannya semakin menjadi, beberapa kali dia
memukulku, dan mengatakan aku bodoh. Aku mencoba menenangkannya sejenak dan
menanyakan arah rumahnya. Aku menuntunnya untuk melangkah ke rumahnya. Rokokku
tadi jatuh, karena pukulannya hampir mengenai wajahku.
Selama berjalan, Anna menjadi lebih
tenang. Diam-diam tangannya meraih tanganku, dan kepalanya berlahan ingin
mendarat di pundak ini. Mungkin penat juga harus menangis, kubiarkan saja
kelakuannya. Ini bukan berarti aku bajingan tengik, namun kebiasaan burukku
untuk membiarkan perempuan memainkan diriku. Aku sedih dengan itu semua. Tak
lama Anna mulai membuka mulutnya. “Aku putus dengannya, aku tak mengerti kenapa
semua terlalu cepat, apa yang membuatnya begitu, apa aku mempunyai sesuatu yang
aneh? Benarkah?,” sorot matanya yang seperti bola mata kucing membuatku
bimbang. Dia seperti hewan yang dibuang oleh majikannya di tengah badai. Aku
pun membalas “Terkadang semuanya bukanlah bidadari,” mendengar ucapanku, dia
semakin banyak bicara. Sekali-kali dia marah, sekali-kali dia sedih. Hingga
kami sampai di rumahnya.
“Sekarang kau bisa menangis dengan
tenang tanpa kedinginan, kau juga tahu nomor teleponku kan?, sampai ju....,”
Anna menarikku ke dalam rumahnya dan tidak peduli dengan kata-kataku. “Kau
tahu, aku belum lega setelah kau mengatakan tidak semuanya bidadari, lagipula
kau juga kedinginan, kita bisa makan lebih dulu,” dengan nada agak marah, Anna
menyiapkan makanan yang ada di kulkasnya. Aku tak mampu banyak berkata, dengan
spontan aku menyalakan Tvnya. Kukira dia tidak akan murka kembali.”La Aimer De
La Rochelle,” sebuah film yang saat ini sedang bermain di TV. Film baru yang
menceritakan sepasang kekasih yang tak direstui, lalu pergi ke kota La Rochelle,
Prancis. Untuk menjalani kehidupan baru mereka.
Derap langkah kaki Anna semakin lama,
semakin terdengar mendekat. Kulihat kebelakang, Anna membawa semangkuk keripik
dan dua gelas Wine. Anna sudah berganti pakaian, Dress putih dengan rambut
diikat kuda. “Wahh film ini cukup aku tunggu-tunggu juga, ini makanlah, kita
bisa melihat film ini hingga berakhir,” ucap Anna.
Film sudah menunjukkan bagian
emosional, tiba-tiba Anna berkata “Maukah kau bersamaku selamanya?,” Dia
melihatku dan kemudian menjatuhkanku kelantai. Bibirnya menyentuh bibirku,
tangannya menelusuri tubuhku. Erangan kecil beberapa kali muncul, Nafasnya
menghembus panas, aku bisa merasakan keringatnya menetes di wajahku. Tak lama
dia berpindah mengkecup leherku, Aku semakin tak berdaya dan tak bisa mengatur
nafas. Dressnya yang tipis, membuat dadanya terlihat mengintip.
“CUKUP!!, aku tak mau menjadi bahan
pelampiasanmu, kau memandangku sebagai binatang. Kau sama saja dengan sikap
mantan pacarmu, tidak ada cinta di dalamnya,” Aku memberanikan diri berbicara
setelah cukup lama mengumpulkan udara di hidungku. Dia berlahan menjauh dari
tubuhku, Anna menunduk dengan sedikit tersenyum. “Kau benar, pulanglah aku
mengizinkanmu, aku juga yang terburuk,” Ucap Anna lirih. Aku mulai merapikan
pakaianku, dan bergegas pergi meninggalkannya. Saat aku sdikit membuka pintu,
Anna berlari menghampiriku dan berkata “Terima kasih atas harinya, mungkin kita
bisa bercerita lagi di kemudian hari,” Dengan cepat aku keluar dari rumah itu.
Aku mempercepat langkahku, lebih
cepat, lebih cepat, hingga aku berlari. Air mata bercucuran, namun aku tak bisa
berhenti. “kenapa harus diriku?, Apa yang kalian inginkan dariku?,” Gumamku
dalam hati. Aku terus berlari menjauh dan menghilang.
Lirik untuk Anna :
Tetap berlari dalam kegelapan
Meski terjatuh
Terluka
Aku masih terlalu takut
Bayangan itu menghantuiku
Tak berjiwa
Namun masih memburuku
Tolong
aku tak bisa bernapas
Aku tak tahu harus kemana
Mimpi buruk menjadi nyata
Semak belukar menyayat
Kerikil Tajam menusuk
Air mata mengalir deras
Tak mampu untuk berteriak
Siapapun tolong aku
Dari kejahatan malam ini
Kenapa dunia terasa dingin?
Hey...
Ini dimana?
Terbangun kembali
Tapi kenapa bulan mendekapku
Ha...
Apa yang terjadi?
Kenapa tak berakhir
Paranoid
Annabele mengintip
Tubuhku terkena sihirnya
Tolong
aku tak bisa bernapas
Aku tak tahu harus kemana
Mimpi buruk menjadi nyata


Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusIni Anna adiknya Elsa? Kok sekarang jadi agresif gini. Ckck
BalasHapusFaktor Selebgram
Hapus