Minggu-minggu ini, aku tidak dapat mengatakan apapun kepada dunia. Sulit sekali untuk mengungkapnya, apa yang terjadi terasa rancu, kompleks, dan komplikasi. Keberadaan orang lain yang jelas tidak sama denganku, membuat pikiranku semakin kacau. Aku takut jika dia tidak mendengar ceritaku, ataupun hanya menjadi patung pelampiasan.
Bermula ketika aku dan teman-temanku, 1 laki-laki dan perempuan menepi sejenak di Taman TB, Cardiff, sabtu malam. Begitulah taman itu disebut, karena namanya yang terlalu panjang untuk sekedar ditulis Line. Aku, James, Nia, dan Kylie. Kami berempat sudah berjanji untuk melupakan segala romantika dan sejenisnya, untuk menjadi sahabat yang seutuhnya malam itu. Biasanya, ritual ini selalu dilakukan di Cosy Club, namun sesekali mengganti suasana akan lebih baik. Lagipula, minggu tersebut tidak banyak upah yang bisa didapat untuk membeli empat Liquor.
James yang selalu tampak garang dan membanggakan diri sejak di sekolah menengah tidak pernah merubah kebiasaannya tersebut, dia selalu menjadi pembicara cerewet, anehnya kami selalu menanti itu terjadi. Mungkin saja, ciri khas James menjadikan setiap akhir minggu selalu terasa ramai. Sesekali dia tidak mendatangi ritual, dan itu merupakan pembeda yang sangat nyata.
Kylie tidak kalah cerewet, dia sering mengalahkan James dan membuatnya tunduk mengakui kehebatannya. Jika Kylie mengikuti lomba debat, pasti juri pun akan terkena semprotnya. Lain halnya, Nia yang sedikit bicara, tapi akan mengaum jika ada yang mengusiknya. Nia adalah yang paling vital, mudah dikenali dan lebih terkenal daripada kami bertiga. Setidaknya kami sudah berteman semenjak awal memasuki kelas menengah hingga 2 tahun setelah pergi dari ruang-ruang penuh buku itu. Berada dalam kota yang sama, membuat kami semakin akrab dan tidak sulit untuk mengatur jadwal pertemuan.
Tidak terasa sudah 5 jam kami mengahabiskan malam taman di dekat sungai Taff tersebut. Beberapa kali aku melirik Nia, karena dia sangat cantik daripada Kylie. Aku tidak bisa berbohong, dia sangat menarik bagiku. Tapi aku tidak ingin merusak hubungan kami, aku rasa menjadi penganggum rahasianya sudah cukup untuk menambal keresahan di setiap harihari yang membosankan.
Acap kali aku bertemu dengan Nia dengan pasangannya pada hari-hari biasa. Sebuah hubungan yang biasa dan tidak membuatku tertarik. Tapi, kejadian-kejadian itu terus berlanjut, membuatku cemburu dan tidak bisa menerima kenyataan. Emosi tersebut membuatku gelisah, setiap malam aku berpikir ”Bagaimana jika aku di posisi laki-laki itu?”. Aku semakin terbakar keegoisanku sendiri.
Jam menunjukkan pukul 2 pagi, Nia mendapat telepon dari kekasihnya di tengah riang tawa para anak-anak Cardiff ini. Sontak dia berubah sikap, yang awalnya sangat terbuka menjadi lebih lembut di hadapan benda kotak kecil. James dan Kylie diam sejenak saat itu. Entah kenapa tiba-tiba iblis kecemburuanku datang dan ingin merusak malam indah kami. Iblis ku seakan mengendalikan dan membuatku berkata ”Nia telah mengkhianati kita, dia tidak menghargai ritual dan peraturan yang sudah dibuat,”. Ketiga sahabat ku terperangah, dan mulai memusatkan pandangannya pada bola mata cokelat ini. “Aku juga melihatnya bersama kekasihnya, pada malam-malam sebelumnya. Itulah kenapa dia tidak pernah hadir,” Iblis laknat tersebut semakin memperkeruh suasana. Nia pun beranjak mematikan teleponnya dan memakiku, karena mencampuri urusannya dan membakar jam-jam tersisa. Kami berdua saling adu mulut, hingga James memutuskan untuk pulang dengan alasan ada sesuatu yang dilupakannya. Aku tahu James berbohong tentang hal itu, dia hanya ingin meredakan ketegangan. 6 jam kami berakhir dengan muka masam. Setelah kejadian tersebut, tidak ada ajakan untuk berkumpul di sabtu malam selama berminggu-minggu.
Setelah mengingatnya, aku merasa bersalah dan ingin sesegera mungkin meminta maaf. Namun hatiku tidak bisa berbohong, aku juga mempunyai rasa kepadanya. Kuputuskan untuk segera menemuinya di rumahnya. Sebelum itu, aku ingin meneleponnya untuk mengabarkan kedatanganku, tapi dia membalas lewat chat jika dia tidak ingin ditelepon. Saat kutanyakan kenapa, dia tidak bisa memberi jawaban yang rasional. ”aku tidak ingin, kenapa kau bertanya,” pesan singkatnya seakan mengatakan jika aku sangat dibenci oleh Nia. Hal itu menusuk batinku, Kalaupun aku menemuinya, pasti dia tak akan mengatakan apapun, bakan menganggapku tidak ada.
Aku semakin bingung. Padahal hanya tinggal 7 kilometer lagi sampai di depan rumahnya, Tapi pesan itu kerap kali memukulku, dengan keras. Kenapa orang lain tidak bisa menerima permintaan maafku?, apakah aku sudah seburuk itu?. Terpaksa aku harus berhenti di tempat itu, dan menepi untuk berpikir sejenak. Kukeluarkan buku dan pulpen di laci mobil, dan menulis sesuatu. Kebiasaan itu selalu kulakukan jika aku mendapati masalah yang pelik. Empat lembar halaman buku bersampul biru itu, dipenuhi coretan ”aku yang terburuk,”. Saat memasuki halaman ke lima, hatiku semakin sesak, seperti ada yang menusuk-nusuk. Aku tak mampu untuk menangis dan marah, karena aku sadar tidak ada yang mempedulikan hal tersebut pada sebuah mobil yang hanya berisi seorang laki-laki.
Kegilaan menyelimuti isi mobil, aku membanting telepon genggamku dan membakar setiap lembaran tadi hingga menimbulkan asap yang menyesakkan hidung. Mataku mulai berkaca, bukan karena sedih, tapi tidak kuat menahan perihnya kepulan asap di ruang tertutup itu. Tak lama, pandanganku mulai gelap dan tubuhku terasa lemas. Aku pingsan dengan bau yang menyengat dari kertas-kertas yang telah kubakar.
DI dalam mobil yang terkunci
Sebuah erangan kerap menghantui
Pria yang baru saja dewasa
Dengan pena di tangan kanannya
Berkali-kali ia meminta
Memohon untuk bisa mengatakan sesuatu
Namun dia tertahan di otaknya
Tolong akhiri penderitaanku
Rintihnya
Ketakutan dunia tak sudi menerimanya
Jiwa murni yang tak pernah diketahui siapapun
Semua orang berkata
”Jadilah dirimu sendiri”
Namun, kenapa pria ini tak bisa
Kalimat itu hanyalah ilusi
Memang benar dia lah yang terburuk
Tapi, sorot mata menyeramkan di luar sana
Mengubahnya menjadi malaikat bertaring

0 comments so far,add yours