Siapa yang bilang sendiri akan membuat hati merasa tenang, aku tidak mendapatkannya. Sudah dua hari ini aku berada di kamar Jahannam, tempatku menenangkan diri sendiri yang telah kutinggalkan selama berminggu-minggu, untuk menyelesaikan proposal skripsi kuliah. Kamar yang dipenuhi tulisan berisi jeritan, dan gambar-gambar aneh yang bisa menghantui orang lain ketika melihatnya. Aku yang membuat semua coretan itu di dinding, karena mustahil mentatonya di tubuh, terlalu banyak pesan yang harus disampaikan. Aromanya tidak pernah membuatku mual, meskipun seperti itu, kurasa aroma tubuhku telah bercampur di setiap sudut ruangan. Dengan kasur yang empuk, dan kaca besar menghiasinya, membuat kalian akan betah bersolek di hadapannya. Mungkin kau akan bertanya-tanya, kenapa tempat yang kudiami selama tahun demi tahun itu terasa mengerikan bagiku, akan kuberi tahu.

Kamar yang dingin akan membuat seseorang semakin betah untuk tidak meninggalkannya, tapi itu tidak berlaku bagiku, kadang pikiran ini tenggelam dalam kesunyian yang dibuatnya. Beragam alat tulis dan kertas-kertas berserakan di antaranya, ya untuk menambal rasa kesal terhadap tembok yang sudah penuh itu. Sama seperti pada kamar-kamar orang lain, di kala ada yang meninap, maka tempat itu akan bersih seketika. Bukan berarti aku menghargai tamu saja, tapi menutup aura merah yang menyelimuti sebenarnya.

            Kau mungkin akan langsung tertidur ketika berada di sana, tapi setiap harinya kecemasan akan ada di sisiku. Aku tidak tahu, kenapa aku begitu takut dan despresi ketika berada di kamar itu, seperti ada sesuatu yang mengawasi. Kalau kau mau lihat bentuknya, tidak akan bisa, sering kali dia menyatu denganku di sana. Okey, akan kugambarkan, dia memiliki mulut yang lebar alias robek, matanya seperti asap yang terus keluar dan menyala, sayap Griffin khas malaikat menghiasi di kanan dan kiri pundaknya. Tidak banyak yang bisa kugambarkan, karena saat ini aku bisa merasakan kukunya mencengkeram di pundak kiriku. Anehnya, sosok itu akan menghilang ketika aku berada di luar ruangan berukuran 3 x 4 meter tersebut.

Naas, hari ini aku harus menyapanya lagi, seperti biasa aku mencoba tenang dan mengerjakan tugas yang belum selesai. Sesekali aku mengecek Handphone ku, dan mengirim pesan kepada kawan-kawan. Sepermpat menit kemudian, aku bisa merasakan aura iblis itu hinggap di tubuhku, berlahan kecemasan mengambil alih kendali. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku sadar, aku mulai takut, dan memohon kepada teman-temanku untuk menyelamatkan aku. Nafas iblis itu mendengus di tengkuk leherku, sembari bisa kudengar dia berkata dengan suara seraknya, “tidak ada yang peduli, sekalipun orang yang kau cintai. Aku adalah dirimu, akulah yang lebih mengerti dirimu.” Tolong, siapapun lepaskan dia dariku.

Beberapa kali aku menelpon gadis cantikku, tapi dia tidak mengangkatnya. Aku ingat, dia pergi bulan lalu, ketika aku menceritakan hal ini. Semakin lama, sesuatu terasa sedang mengiris hati, kepanikan menjadi semakin parah. Kukirimkanlah pesan kepada siapapun yang dekat denganku :

 

Katakan padaku jikalau aku menganggumu..maka akan kuakhiri semua

Kau tahu aku terjebak dalam rasa takut dan dingin di kamar ini

Aku tidak tahu, semua merasa menyakitkan, pikiran menusuk jantung ada di kamar ini, aku ingin meninggalkannya

 

Perempuan itu tak berbicara apapun kepadaku

Aku merasa takut, cemas, dadaku sesak sekali setiap malam

Tidak boleh ada yang mengikuti urusan kita, hanya kau dan aku

Aku tak ingin ada yang mengganggu

Tapi kenapa kau masih berakting seperti itu?

 

Katakan aku baik-baik saja

Katakan bahwa yang kualami sama denganmu

Kenapa tidak ada yang memberitahuku

Kau tahu, rasanya menyedihkan ketika sendiri

 

Aku tak ingin pergi, mereka mencoba mengambilku

Selamatkan aku.

 

Kau kira aku berbohong?, ini bukti nyata...waktunya semakin dekat

Aku bisa merasakan darah membeku di otakku

Kau bilang aku gila? Ya..dan kau mulai menjauh? Lakukan

 

Aku hanya anak kecil yang malang

Dengan iblis di dalam kamar

Aku bisa merasakannya, mendengus di belakang leherku

Mencoba menarikku sekarang ke neraka selamanya

 

Jika kau tahu Bipolar, maka hal itu yang kualami sekarang. Sebelumnya, aku percaya semua orang mendengarku, tapi ketika berada di tempat ini, ekspetasi itu menjadi pudar, pudar secara cepat. Semakin malam, ketakutan menjadi lebih menyala. Sebuah dialog tercipta di antara aku dan iblis di dalam diriku ketika bulan telah berada di atas kamar itu.

 

Iblis : “Aku tahu akan ketakutanmu, bukankah kita sudah membuat perjanjian sebelumnya?, di mana solusi atas rasa kesalmu kepada orang-orang diluar sana termasuk gadis impianmu, aku yang memberi tahumu.”

Aku : “Ya memang benar, kita sudah saling bercengkrama bersama, namun setiap harinya, aku bisa merasakan kau mengambil seluruh jiwaku. Seakan tidak ada sisi malaikat padaku, kau menghiasi tubuhku dengan haus darahmu, pikiranku semakin tidak waras.”

Iblis : “Jangan salahkan aku, bukankah gadis-gadismu yang membuat itu?, harusnya kau tidak berhubungan dengan mereka atau dengan orang lain di luar sana. Terlalu banyak orang yang harus dipikirkan. Kau tidak bisa menjadi pahlawan di dunia, selamatkan dirimu sendiri, aku bisa membantumu.”

Aku : “TIDAK!, CUKUP!, aku tidak ingin mengecewakan siapapun. Mereka ingin berbicara padaku, maka akan kukerahkan diriku untuk mereka. Aku tahu, rasanya sendirian itu seperti apa, kau bahkan menenggelamkanku pada keputus asaan di waktu-waktu itu. Aku hanya ingin...hanya...hanya ingin bahwa aku normal dan semua ini wajar.”

Iblis : “Berbicaralah sesukamu, tapi aku sudah bersemayam di hatimu. Ketika kau kesal akan orang lain, aku akan mengingatkanmu, bukankah aku cukup baik?, daripada kau harus memendam perasaan-perasan itu. Ingatlah, kau manusia..kau punya sifat iblis..ambillah keduanya, mari ikutlah denganku..”

 

Sialan, aku semakin terjerat padanya, seakan sisi baik tidak memberiku kewarasan. “Pergilah,” seperti sesuatu tiba-tiba menggema dalam diriku, secepatnya aku pergi meninggalkan ruangan itu, berlari keluar rumah, dan menuju ke sebuah warung kecil yang agak ramai. Entah kenapa, aku seperti sehat kembali, tapi aku sadar ini bukan yang pertama kalinya. Ketika aku kembali ke tempat itu, aku akan menemuinya lagi, dia yang berbalut sisi egoisku, sisi di mana orang-orang mendampakannya. Sepertinya kalimat “cintailah dirimu sendiri, jangan percaya pada orang luar mereka tidak mengertimu sepenuhnya,” terasa seperti omong kosong bagiku. Kau tahu, karena di saat itu aku merasakan mahluk itu dan aku benci ketika sendirian.

 

 

0 comments so far,add yours