"Hari yang sama, ruang yang sama. Apakah tidak ada yang
bisa dilakukan?, mari membuat sebuah pesta." Otakku bertanya, tapi segera
juga aku mengambil susu dingin di kulkas dan meminumnya, barangkali semua
menjadi lebih tenang.
Di negara yang menyedihkan ini, kau akan menemui kekerasan
dan kehancuran sesungguhnya. Namun, kau akan disembuhkan di kemudian hari untuk
merasakan patah tulang atau sejenisnya kembali. Namun, satu hal yang agak lama
bersemayam bahkan menjadi bagian dari diri adalah sakit hati. Ya, kau harus
merawatnya, dan jangan biarkan dia menguasaimu.
Setelah beberapa waktu untuk berpikir dan membersihkan
sedikit debu di apartemen, keluar untuk meremajakan mata bukanlah sebuah
kesalahan. Melihat mata-mata yang lain saling berpandangan, dan menatap dengan
penuh arti. Kau juga perlu tahu tentang "seperti mata ikan", sebuah
pandangan ikan yang terbuka lebar walau telah mati, atau tidak mempunyai arti
dalam melihat sesuatu.
" krincing..," suara bel di balik pintu ini,
menandakan kita sampai di toko roti Antonio Meitti. Alunan suara klasik menjadi
ciri khasnya, sesekali nada dari gitar Spanyol juga menggetarkannya. Suasana
agak hangat menyelimuti kulit dan hidungmu, seperti roti kering yang ditaburi
gula dan mentega lumer di atasnya. Dengan lampu kuning sebagai sorot utamanya
akan membuat sedikit tipsy. Owh, cukup pesan kopi atau minuman yang
tersedia di sini, itu akan membuatmu tetap sadar.
Dua Bombolloni biasa, segelas Cessare, dan Lasagna
di Mare, cukup untuk membuatku segar selama 12 jam. Setiap pagi aku
terbiasa bersama mereka, kadangkala menyantap daging di supermarket, segelas
susu, atau berlari adalah sarapan pagi. Namun, aku merasa hanya bisa memesan
menu tersebut hanya satu kali dalam dua bulan kedepannya.
Ya, sedikit jujur, aku telah dipecat dari sebuah lembaga
swasta. Aku tak mau menyebutnya lagi, itu trauma. Semua orang di sana seperti
tidak melihat apapun ketika aku pergi meninggalkan tempat itu. Bahkan rekan
kerjaku, yang bertugas bersamaku di hari terakhir, tak sedikitpun menyadari
keberadaanku. Entah, dimana mata mereka kala itu.
Sebelumnya aku hanyalah pria biasa yang membawakan sebuah
produk perusahaan, mencatat, dan menagih uang sesekali tiap bulan. Lalu ada
sebuah rumah, dimana aku harus menarik uang bulanan, dimana penghuninya seperti
sedang kesulitan. Benar saja, ketika aku mengetuk rumah itu, gadis kecil dengan
mata berkaca-kaca, tersenyum dan memberikan uang recehan. Aku tidak bisa
memandangnya lebih lama, walaupun seharusnya itu sebuah kewajibanku. Matanya
agak memerah, dengan beberapa air mata kering menempel di pipinya, Bulatan mata
hitam yang sempurna membuatku iba padanya. Rekan kerja yang kuceritakan tadi,
yang bersamaku di Mobil, langsung bergegas masuk ke dalam rumah, dan mengambil
beberapa barang. Di waktu yang cepat itu, aku tidak tahu apa yang harus
kulakukan, meninggalkan kedua mata anak itu yang merengek atau kembali bekerja.
Si rekan kerja, mengatakan padaku "jangan beri ampun untuk siapapun, kau
tahu jika kau ingin bertahan, jangan menjadi lemah. dunia ini keras, buddy..,"
Setelah itu dia menyuruhku cepat masuk untuk pekerjaan
selanjutnya. tanpa kesadaran penuh, aku mendekatinya dan mengepalkan tangan
menuju pelipisnya, berharap mata mata itu keluar dan terkena kotoran, agar bisa
ia bersihkan lagi. Dengan sedikit syok, dia langsung pergi, yang aku kira akan
menuju kantor. Karena keesokan harinya aku bisa menceritakan semua ini.
Mengingatnya membuatku ingin memukul matanya kembali
bersamaan memotong tengkorak orang-orang di seluruh lembaga itu. Mengambil
beberapa mata, dan termasuk mata bos, lalu memalunya ke dinding. Maaf, mungkin
itu reaksi despresi tapi tak apa, kita semua bisa melaluinya.
Setelah menghabiskan menu di Forno Antonio Meitti,
aku akan mengajakmu berjalan-jalan, berharap menemukan pekerjaan. ya,
perjalanan ringan. Beberapa langkah kedepan, aku melihat seorang wanita
berambut pirang, dengan tinggi kurang lebih 160cm, histeria panik tanpa suara.
Dia ditarik oleh seorang berbaju serba hitam dengan noda lumpur di sekitaran
celana. Tanpa kusadar, aku mengikuti arah mereka.
Astaga, sebuah perampokan paksa. Entah kenapa aku tak bisa
melepaskan kegiatan-kegiatan kecil ini di mataku. Semua tergambar jelas,
perampok itu membawa dua temannya yang lain. Dalam pikiranku, dia akan
diperkosa, diambil hartanya, dan dilukai mentalnya. Pola biasa untuk membuat
kejahatan tetap lestari.
Tapi, dalam pojokan sempit itu, kedua perampok yang menunggu
sebelumnya tidak tertarik dengan tubuh perempuan itu. Sebuah Cutter
dikeluarkan dari balik saku salah satu komplotan. Cutter itu mengarah ke
area bagian bawah telinga, atau tempat anting. Penyayatan agak menyulitkan,
karena harusnya mereka membeli Cutter baru. Baju wanita itu disingkap ke
atas, dan pencuri itu menemukan tindik di kedua putingnya, kau tahu, warnanya
platinum. sekaya apa perempuan itu.
Tanpa basa basi, sebuah tang menarik platinum itu dari
putingnya, membuat darah membasahi tubuh, dilanjut tindik di hidungnya yang
terlihat seperti warna besi biasa. Aku hanya menyaksikan dengan penuh
gemetaran, tapi aku bisa melihat mata wanita itu. Mata ketakutan, mata menginginkan
untuk dibiarkan sendiri, mata memohon pertolongan.
Namun, aku tidak punya nyali untuk menemuinya. Tapi sebuah
kesadaran lain mendorongku untuk mendekat dan berlari ke arah mereka.
Perampok-petampok itu langsung berlarian, aku pikir mereka orang yang tidak mau
diganggu selama bekerja, huh..pengecut. Wanita itu, menoleh ke arahku sambil
menahan isak tangisnya, dan berkata.
"Terlambat, kau membiarkanku hingga mereka merusak
jiwaku. mahluk macam apa kau, aku tahu kau berada di seberang sana, menikmatinya
dan berlari ketika semua akan usai..dasar Psikopat!!," "katakan
sekali lagi," "ya kau, pembunuh sebenarnya," "dasar pelacur!!."
Emosi menjalar ke setiap bagian tubuhku, amarah akan
dilecehkan dan juga ia tidak menganggap mataku berguna. Padahal, kau tidak
mengerti perempuan, kau hanya perempuan ketakutan.
Aku memukul rahangnya berkali-kali hingga aku hanya bisa
melihat darah di mulut, kulanjut dengan mengeramasi rambutnya dengan darahnya
sendiri. Mataku menuju sebuah paku, yang tidak jauh darinya, lantas aku
tusukkan paku itu di setiap bagian telinganya. Ya, dia tidak bisa menjerit, ya,
kau dapatkan balasannya.
Matanya yang kelihatan menyembul akan keluar, membuat ingin meraihnya. Kuarahkan kukuku ke dalam
dua kelopak matanya. Aku bisa merasakan denyut bergetar di tanganku. Setelah
agak dalam, aku tarik tanganku secepat mungkin, dan tara aku dapatkan kedua
mata itu. Mata indah yang baru beberapa saat yang lalu, menangis.
Aku memandang mata itu, dan mulai ikut menangis. Sebuah mata
tidak berdosa kucabut dari raganya, apa yang telah kuperbuat. Kuraih saku
jaketku dan menyimpan kedua mata itu sebagai cindera mata kejahatan pertamaku,
sebuah kenang-kenang an. Aku menyeret tubuhnya, keluar agak menjauh dari tempat
itu.
Aku membungkus mayatnya dan meratapi segala penyeselanku,
namun aku tak ingin dipenjara. aku terlalu miskin untuk itu. memori pencuri
yang mengambil barang berharga wanita itu, membuatku berpikir sesuatu hal yang
tak akan kau percaya. Menjuak beberapa organ tubuh, akan membuatku tetap hidup,
sembari menghapus jejak pembunuhan ini. Kuraih kedua mata nya di sakuku
denga tangan bersimbah darah agak
kecoklatan. Mata itu tertutup oleh darah yang menebal, seakan kecewa untuk
tidak melihat mata itu kembali. Aku meremukkan mata itu dengan satu genggaman
dan membawa mayat wanita itu dalam karung untuk kubawa pulang.
Pembedahan dimulai, kuambil apa saja yang bisa dijual. namun
yang tetap kuinginkan adalah matanya. Mata, sebuah gambaran jiwa, kau tidak
bisa berbohong, matamu menunjukkan kebenaran. Aroma darah menempel pada jaket
ini, sebagai bukti aku mencetak skor lagi. Mari kawan, ikut aku...menuju
perjalanan mencari mata selanjutnya untuk dicintai.

0 comments so far,add yours